Rabu, 27 Maret 2013

DAKWAH ISLAM PADA MASA KHULAFAURROSYDIN


1.      Diah Titah Suko Palupi        3217103020
2.      Fahri Husaini                         3217103024
3.      Fitri Wulandari                     3217103029

Jurusan/Prodi      : Tarbiyah/PGMI_A
Semester               : V

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) TULUNGAGUNG
2012




KATA PENGANTAR

Bismillahiromanirrohim
Alhamdulillah, dengan rahmat Allah SWT Yang Maha Kuasa saya bisa menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik, walupun masih banyak kekurangan disana sini. Namun harapan saya dengan kekurangan ini bisa menambah pengalaman saya dalam membuat makalah-makalah selanjutnya.
Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada junjungan Nabi Agung Muhammad SAW yang kita nantikan safa’atnya dihari akhir nanti.
Dengan terselesainya pembuatan makalah yang berjudul dakwah isla pada masa khulafaurrasyidin. Bukti langsung dan tak langsung, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bapak Dr. Maftukin, M.Ag, selaku Ketua STAIN Tulungagung
2.      Bapak H. Muh. Khoirul Rifa’I, M.Pd.I selaku Dosen Pembimbing yang telah memberi pengarahan yang amat erat bagi penyusun makalah.
3.      Seluruh pihak yang ikut membantu terselesaikannya makalah ini.

Sebagai manusia saya tidak lepas dari khilaf dan lupa begitu pula dengan adanya makalah yang telah saya buat ini, maka dari itu segala bentuk kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.


Tulungagung, 8 Oktober 2012


Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul………………………………………………………………            i
Kata Pengantar………………………………………………………………           ii
Daftar Isi…………………………………………………………………….            iii
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………..           1
A.    Latar Belakang………………………………………………………...            1
B.     Rumusan Masalah……………………………………………………..            2
C.     Tujuan…………………………………………………………………            2
Bab II Pembahasan………………………………………………………….            3
A.    Dakwah Islam pada masa khulafaurrasyidin Abu Bakar As-shidiq….          2
B.     Dakwah Islam pada masa khulafaurrasyidin Umar Bin Khottob…….           5
C.     Dakwah Islam pada masa khulafaurrasyidin Usman Bin Affan…….           11
D.    Dakwah Islam pada masa khulafaurrasyidin Ali Bin Abi Tholib…           14
Bab III Penutup…………………………………………………………….....         10
A.    Kesimpulan …..……………………………………………………….         21
Daftar Pustaka…………………………………………………………………        23








BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Khulafa’ merupakan bentuk jama’ dari kholifah yang artinya pengganti. Sedangkan arti rhosydin bentuk jama’ dari ar rosyid yang artinya benar, cerdik, dan mendapat pentunjuk. Maka dari sini khulafaurrosyidin dapat diartikan para pengganti yang benar. Adapun yang dimaksud dengan khulafaurrosydin yaitu para pemimpin pengganti rosululloh dalam mengatur kehidupan umat manusia yang adil bijaksana, cerdik, selalu melaksanakan tugas dengan benar dan selalu mendapat petunjuk dari Alloh.

B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Bagaimana dakwah islam pada masa kholifah Abu Bakar as Shidiq ?
b.      Bagaimana dakwah islam pada masa kholifah Umar bin Khottob ?
c.       Bagaimana dakwah islam pada masa kholifah Utsman bin Affan ?
d.      Bagaimana dakwah islam pada masa kholifah Ali bin Abi Tholib ?

C.    TUJUAN
a.       Untuk mengetahui dakwah islam pada masa kholifah Abu Bakar as Shidiq
b.      Untuk mengetahui dakwah islam pada masa kholifah Umar bin Khottob
c.       Untuk mengetahui dakwah islam pada masa kholifah Utsman bin Affan
d.      Untuk mengetahui dakwah islam pada masa kholifah Ali bin Abi Tholib









BAB II
PEMBAHASAN

A.    ABU BAKAR AS SHIDIQ (632-634 M)
Abu bakar adalah putra Usman, silsilahnya dengan Rosullah pada Ka’ab Bin Luai. Panggilan Abu Bakar As Shiddiq sebenarnya adalah sebagai gelar saja. Abu artinya bapak, sedangkan Bakar artinya dengan segera. Beliau diberi nama demikian karena beliau masuk islam dengan segera, mendahului yang lain. Kemudia As Shiddiq artinya yang amat membenarkan. Karena beliau sangat membenarkan berbagai pengalaman dan ajaran yang dibawa oleh Rasululloh terutama pada peristiwa Isro’ Mi’roj. Beliau lahir pada tahun 568 M. ibunya bernama Salma Ummul Khoir yaitu anak dari paman Abu Qihafa.
Tentang pribadi Abu Bakar terkenal sebagai orang yang berakhlaq mulia, jujur, cerdas, cakap, kuat kemauan dan pemberani,serta beliau terenal sebagai orang yang rendah hati, pemaaf dan dermawan.
1.    Proses pengangkatan Abu Bakar sebagai Kholifah.
Rasulullah meninggal dunia pada tahun 632 M. Wafatnya rasulullah menghadirkan masyarakat islam kepada situasi krisis kepemimpinan, karena ketika Rasulullah masih hidup tidak pernah menunjuk diantara sahabat yang menggatinkannya sebagai pemimpin umat islam. Bahkan tidak pula membentuk suatu dewan yang dapat menentukkan siapa penggantinya.
Muhajirin dan Ansor yang pada awalnya merupakan varaian dalam proses pembentukan masyarakat Madinah, berubah menjadi fiksi politik dalam rangka menentukan pengganti Rasulullah. Muhajirin dan Ansor yang sudah dipersatukan oleh Rasulullah dalam ikatan keyakinan agama, dihadapankan pada satu krisis dan cenderung bertikai dan saling bermusuhan.
Setelah Rasulullah wafat para sahabat terpencar-pencar, pertama: sahabat Nabi dari kalangan Anshor telah bergabung dengan Sa’ad Bin Ubadah dipertemukan Saqifa Bani Sa’idah. Kedua: sahabat dari kalangan muhajirin- Ali Bin Abi Tholib, Zubair Bin Awwan, dan Tholhah Bin Ubaidillah tinggal di rumah Siti Fatimah. Ketiga: kalangan Muhajirin selain tiga tokoh tersebut bergabung dengan Abu Bakar.[1]
Sahabat Nabi dari kalangan Ansor yang telah berkumpul di Saqifa bani Sa’idah telah sepakat untk mengangkat Sa’ad Bin Ubadah untuk menjadi pemimpin umat islam tanpa dihadiri oleh kalangan Muhajirin. Tetapi dari suku Aus tidak memberi dukungan kepada Sa’ad Bin Ubadah. Abu Bakar dan Umar Bin Khottob dating ke Saqafa Bani Sa’idah, kemudian berpidato dihadapan sahabat Ansor yang sedang bermusyawarah dengan memberikan tawaran berupa pembagian wewenang agar umat islam tidak pecah. Akhirnya timbul ketegangan diantara para sahabat Anshar dan Abu bakar.Setelah ketegangan mulai mereda, Abu bakar menawarkan Umar Bin Khottob dan Abu Ubaidah (keduanya dari kalangan Muhajirin) dan mempersilahkan dari kalangan Ansor untuk membai’at salah satu dari mereka. Akan tetapi keduanya menolak dan berkata: Engkau (Abu Bakar) adalah muhajirin yang paling utama, engakau yang menemani Rasulullah saat di Gua Tsur, dan meggantikan Rasulullah menjadi imam Sholat ketika Rasulullah berhalangan. Abu Bakar akhirnya diangakat sebagai khalifah setelah melalui musyawarah di Saqifa Bani Sa’idah.
2.    Kepemimpinan dan kebijakan Abu Bakar As Shiddiq.
a)    Memerangi tiga golongan yang mengacaukan islam.
Pada masa awal kepemimpinanya, Abu Bakar banyak mengahadapi gangguan dari berbagai golongan antara lain: orang-orang murtad, golongan yang tidak membayar zakat, dan golongan orang-orang yang mengaku menjadi Nabi. Adanya orang-orang murtad karena mereka belum memahami Islam seacara mendalam.Mereka baru taraf pengakuan atau masuk Isalam karena terpaksa.Golongan yang tidak membayar zakat kebanyakan berasal dari kabilah yang tinggal di Madinah seperti Bani Qothfah, Bani Bakr.Mereka beranggapan bahwa membayar zakat hanya kepada Rasulullah, apabila Rasullulah meninggal maka tidak ada lagi kewajiban membayar zakat.Sedangkan orang-orang yang mengaku sebagai nabi telah muncul hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah.[2]Mereka semakin berani melakukan kekacauan atas nama agama. Diantara orang yang mengaku Nabi adalah:
1)   Musailamah Al Kadzab dari Bani Hanifah.
2)   Thulaikha Bin Khuwailid dari Bani As’ad.
3)   Saj’ah Tamimiyah dari Bani Tamim.
4)   Aswad Al Ansi dari Yaman.
b)   PengumpulanMushaf Al-Qur’an
Perang Yamamah merupakan perang dalam menumpas orang-orang murtad yang mengkhwatirkan Umar Bin Khottob. Dalam perang Yamamah terdapat 1200 tentara islam yang gugur syahid dan diantaranya adalah sahabat yang hafal Al Qur’an. Kekhawatiran Umar mendorong untuk mengusulkan kepada kholifah Abu Bakar agar mengumpulkan Al Qur’an dengan alas an agar al Qur’an tidak hilang dan tetap lestari.Perdebatan terjadi antara Umar dan Abu Bakar, Abu Bakar menolak karena Rasulullah tidak pernah meerintahkan sebelumnya.Tetapi atas penjelasan Umar Bin Khottob yang rasional maka Abu Bakar menerima usul itu dan mengumpulkan lembaran-lembaran Al Qur’an yang dihimpun oleh Zaid Bin Tsabit. Pengumpulan Al Qur’an dilakukan dengancara mengumpulkan Al Qur’an yang di tulis di tulang, pelepah (kulit) kayu, lempengan batu kemudian disalin oleh Zaid Bun Tsabit di atas kulit hewan yang sudah di samak. Lembaran-lembaran yang berisi tulisan Al Qur’an yang telah dikumpulkan, di simpan di rumah Abu Bakar hingga meninggal.Kemudian disimpan oleh Umar hingga meninggal dunia.Dan akhirnya disimpan di rumah Khafsah BintiUmar.
c)    Perluasan Wilayah
Pada tahun ke 12 setelah hijroh Abu Bakar mengirim pasukan ke Irak yang dipimpin oleh Kholid Bin Walid dan dibantu oleh Al Mustsanna Bin Haritsah dan Qo’qok Bin Amr, Irak pada waktu itu jajahan kerajaan Persia, sebelumnya Kholid Bin Walid telah mengirim surat kepada Hormuz panlima perang Persia agar masuk Islam. Tetapi Hoymuz menolak dan lebih baik berperang melawan pasukan (Islam dari pada masuk Islam.Dalam peperangan ini pasukan Islam mendapat kemenagan.Daerah-daerah yang berhasil dikuasai oleh pasukan Isalm adalah Mazar, Walajah, Allis, Hirrah, Anbar, Annuttamar, dan Daumatul Jandal.
Untuk menaklukkan Syiria Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin oleh Usman Bin Zaid Bin Haritsyah. Pasukan islam berhasil mengusai negeri Qudho’ah, sedangkan untuk memperluas wilayah Islam Ke Syria lainnya, Abu Bkar mengirimpasukan lainnya. Kedaerah Palestina dipimpin oleh Amr Bin Ash, ke Roma oleh Ubaid Bin Jarroh, ke Damaskus dipimpin oleh Yazid Bin Mu’awiyah, ke Yordania dipimpin Syurahbil Bin Hasanah.[3]
Untuk mengahdapi pasukan Islam, Pasukan Romawi yang dipimpin oleh Heraklius mempersiapkan pasukan yang cukup besar. Pasukan Islam juga bersatu dalam satu front besar. Kedua psukan tersebut bertenu di salah satu tenmpat bernama Yarmuk. Peperangan Yarmuk baru berakhir pada masa pemerintahan Umar Bin Khottob.[4]
3.    Akhir riwayat Abu Bakar
Abu Bakar memegang kendali pemerintahan selam 2 tahun lebih sedikit. Kemudian beliau merasa sakit, lalu berpulang kerahmatullah. Masa 2 tahun lebih sedikit itu adalah masa yang mat singkat tetapi masa yang singkat itu dapat dipandang sebagai masa yang menentukan bagi ajaran Islam.
Dalam keadaan yang  demikian beliau dapat mengerahkan kaum muslimin menghancurkan syirik dan memberantas keragu-raguan dan paham malah beliau dapat pula memgerahkan mereka menggulingkan singgasana Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi). Kalau ada suatu peristiwa besar yang terjadi dimasa permulaan Isalam, maka nama Abu Bakar selalu jelas didalamnya. [5]

B.       UMAR BIN KHOTTOB
Umar Bin Khottob dilahirkan di Makkah tahun 40 sebelum Hijriah. Ayahnya bernama Nufail Bin Abdul Uzza Al- Quraisy dari suku bani Adi. Ibunya bernama Hantamah Binti Hasyim Bin Al- Mughiroh Bin Abdillah. Silsilahnya dengan Rasulullah pada generasi kedelapan. Umar Bin Khottob seorang pemuda Quraisy yang gagah, kuat dan pemberani. Beliau dibesarkan dalam keluarga yang tidak mampu. Ayahnya tidak termasuk orang kaya tetapi memiliki konsep kepemimpinan yang baik, dan tegas. Watak keluarganya sangat keras sehingga disegani oleh masyarakat Quraisy.
Umar Bin Khottob masuk islam dalam usia 27 tahun. Pada awalnya Rasulluloh berdo’a kepada Alloh agar agama islam diberi kekuatan dengan masuknya salah satu seorang dari dua Umar yaitu Umar Bin Khottob dan Amr Bin Hasyim (Abu Jahal). Akhirnya Umar Bin Khottob masuk islam.[6] Setelah keislamnya, sikap keras yang selama ini ditunjukkan kepada masyarakat muslim melemah dan sebaliknya keras terhadap kaum Quarisy yang mengganggu keselamatan kaum muslimin.
Bagi islam, keislaman Umar dalah kemenangan yang nyata bagi islam. Menurut Ibnu Mas’ud bahwa islamnya Umar adalah suatu kemenangan, hijrohnya adalah suatu pertolongan dan pemerintahannya adalah rohmat.
1.    Proses pengakatan Umar Bin Khottob sebagai Kholifah.
Abu Bakar jatuh sakit pada musim  panas tahun 634 M, dan terbaring selama 15 hari ditemapt tidur. Kholifah ingin sekali menyelesaikan pergantian dan mencalonkan seorang penggatinya. Abu Bakar merasa yakin bahwa tidak ada seorangpun yang lebih pantas memangku jabatan sebagai kholifah penggati dirinya kecuali Umar Bin Khottob. Karena  itu beliau ingin mengetahui pendapat masyarakat islam dengan bermusyawarah tentang kepemimpian pasca dirinya dengan  sahabat yang lainya.
Dalam sebuah riwayat T-Thibari mengatakan bahwa Abu Bakar naik di atas balkon rumahnya dan berbicara dengan banyak orang yang berkerumunan di bawahnya.“ apakah kalian akan menerima orang yang akan saya calonkan sebagai penganti saya? Saya bersumpah bahwa saya melakukan yang terbaik dalam menentukan hal ini, dan saya telah memilih Umar Bin Khottob sebagai pengganti saya, dan ikutilah keinginan saya.“ mereka semua menjawab, “ kami telah mendegar kholifah dan kami semua kan mentaati tuan”.
Kemudian Abu Bakar memanggil Usman Bin Affan dan membacakan naskah yang berisi penunjukan Umar Bin Khottob sebagai penggatinya. Usman pun setuju dengan penunjukkan itu. Abu Bakar meninggal dunia pada hari senin, tanggal 23 Agustus 634 M dalam usia 63 tahun, menjadi kholifah selama 2 tahun 3 bulan 11 hari.[7]
2.      Kepemimpian dan kebijakan Umar Bin Khottob.
a)    Perluasan Wilayah
        Pada zaman Umar Bin Khottob, ekspansi dilakukan secara bertahap. Dasmaskus ibu kota Syiria jatuh dan dapat dikuasai oleh umat islam pada tahun 635 M. Setahun kemudian Byzantium dikalahkan oleh tentara islam. Dari Syiria ekspansi dilanjutkan ke Mesir di bawah pimpinan Amr Bin ash dan ke Iraq dibawah pimpin Sa’ad Bin Abi Waqash. Niskandariyah ibu kota Mesir ditaklukkan pada tahun 641 M. Al- Qodisiyah sebuah kota dekat hijrah di Iraq berhasil dikuasai oleh tentara islam pada tahun 637 M. Dari Hirah serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia. Al- Madain dan ibu kota itu berhasil dikuasai oleh tentara islam, pada tahun 641 M. Mosul juga berhasil dikuasai oleh tentara Isalam. Jadi pada zaman Umar Bin Khottob kekuasaan wilayah Islam meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, dan sebagian wilayah Persia dan Mesir.



b)   Meletakkan Prinsip Keadilan
Umar Bin Khottob mengirim surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari (Hakim Kufah) yang isinya mengandung prinsip-prinsip perkara di persidangan dalam lingkungan peradilan. Isi surat surat tersebu adalah:
1.    Memutuskan perkara dipengadilan adalah kewajiban yang harus di kokohkan dan sunah yang harus diikuti.
2.    Sebelum sebuah perkara di putuskan, ia harus dipahami terlebih dahulu agar (hakim) dapat bertindak adil.
3.    Pihak-puhak yang berperkara harus diperlakukan sama, baik dalam persidangan maupun dalam menerapkan keputusan, sehingga pejabat tidak berharap menang dan orang-orang lemah tidak putus asa dalam memperjuangkan keadilan.
4.    Alat bukti di bebankan pada penggugat, sedangkan sumpah di berikan pada pihak tergugat.
5.    Damai sebagai alternative dalam memperseketaan  dibolehkan selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal.
6.    Berilah waktu kepada penggugat untuk mengumpulkan alat-alat bukti dan persengketaan di putuskan harus berdasarkan alat-alat bukti.
7.    Hakim harus mengakui kesalahan apabila ternyata dalam keputusannya terdapat kekeliruan.
8.    Kesaksian seorang muslim dapat diterma kecusli muslim yang pernah memberikan kesaksian palsu, pernah di jatuhi hukuman.
9.    Seorang hakim di benarkan melakukan analogi dalam memutuskan perkara apabila perkara yang hendak di selesaikan tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits.[8]
10.     Dalam proses menyelesaikan dan memutuskan perkara, hakim tidak boleh dalam keadaan marah, berfikiran kacau, jemu, bersikap keras, dan hendaklah memutuskan perkara dilakukan dengan hati yang tulus berharap ridho allah.
Surat Umar Bin Khottob yang berisi tentang prinsip-prinsip peradilan merupakan peradaban yang tinggi, karena prinsip peradilan itu masih di pergunakan hingga sekarang. Meskipun telah dilakukan beberapa purubahan. Gagasan tentang peradilan ini dapat dijadikan dasar untuk menjadikan Umar Bin Khottob sebagai bapak peradilan.

c)   Pengembangan Kekuasaan.
Umar Bin Khottob membagi daerah islam menjadi beberapa wilayah atau propinsi. Masing-masing propinsi dibawah kekusaan gubernur. Seperti Kufah dibawah kekuasaan saat Bin Abi Waqosh, Basrah di bawah kekuasaan Athbah Bin Khazwan, dan Fustad di Mesir dibawah kekuasaan Amr bin Ash.
d)  Membentuk beberapa dewan.
Antara lain Baitul Mal (perbendaharaan Negara), yang bertugas mengatur keluar masuk uang, sehingga keuangan Negara terkontrol dengan baik, dan dewan angkatan perang yang bertugas mencatat nama-nama tentara dan yang member gaji tentara.
e)   Menetapkan tahun Hijriah sebagai tahun islam.
f)    Membnagun beberapa masjid.
Antara lain masjid Al-Haram, masjid Al-Aqsha, masjid An-Nabawai, dan masjid Amr Bin Ash di mesir.[9]
3.      Perluasan Islam dimasa Abu Bakar As-Shiddiq Umar Bin Khattab dan Pertempuran yang dihadapi.
Dalam perluasan mernerangkan fase-fase perluasan Islam ke negeri-negeri Persia dan Romawi. Pemberangkatan pasukan ini lebih titik beratkan kepada segi politik bukan karena kepentingan pertahanan. Pengiriman pasukan terus dilaksanakan Abu Bakar karena beliau berpendapat bahwa hal ini akan menimbulkan kesan kepada kaum-kaum pemberontakan bahwa kaum muslimin mempunyai kekuatan yang besar. Politik abu bakar inin berhasil baik. Pengiriman balatentara itu dapat menimbulkan keyakutan pada bangsa Romawi dan pada pemberontakan-pemberontakan bangsa arab.
a.    Pertempuaran-pertempurann di Persia.
Abu Bakar mengirim balatentara Isalm ke Persia di bawah pimpimpinan Khalid Ibnu Walid dibantu oleh Al Mutsanna Bin Haritsah yang dapat mengalahkan kerajaan Manadzirah dan menduduki kota Hirah dan Ansar.
Di masa pemerintahan Umar Bin Khottob keadaan balatentara Islam jauh lebih kuat daripada Romawi, Umar mengirimkan balatentara ke negeri Persia dengan jumlah pasukan 8000 orang dengan dipimpin Sa’ad Bin Abi Waqqash.
Pada tahun 15 H, telah berhadapan dengan pasukan Persia dengan jumlah 30.000 ribu orang yang dipimpin oleh Rustam. Dalam pertempuran ini kaum muslimin menang dan Rustam dapat dibunuh. Tahun 16 H Sa’ad dapat mengalah kan Persia dan menawan seorang putri Kisra Persia. Pad tahun 21 H melakukan pertempuaran dengan Yazdigird di Nahawand. Pada peetempuran ini adalah pertempuran yang terkuat dan terbesar yang lebih dikenal dengan sebutan “Fathul Futuh” (kemenangan yang paling besar di antara seluruh kemenangan). Pada tahun 22 H kaum muslimin dapat menduduki Ahwaz.
b.    Pertempuran-pertempuaran di Negeri Romawi.
Minat kaum muslimin untuk memerangi bnagsa Romawi lebih besar dari minat mereka memerangi bangsa Persia. Hal ini di sebabkan karena gangguan bangsa romawi terhadap kaum muslimin lebih besar dari pada gangguan bangsa Persia. Lagi pula karena negeri syam, mesir dan palestina adalah merupakan Negara-negara jajahan dari bangsa romawi. Oleh karena itu abu bakar mengumpulkan bala tentara yang besar jumlahnya untuk dikirim ke Negara Romawi.[10] Lascar ini di bagi Abu Bakar atas empat pasukan, yaitu:
1.      Satu pasukan di pimpin oleh Abu ‘Ubaidah Ibn Jarrahyang pernah diberi julukan oleh Nabi: “Aminul Ummah’’ (kepercayaan umat) pasukan ini dikirim ke Himsh. Abu Ubaidah diberi tugas sebagai pemegang pimpinan tertinggi dari ke empat pasukan ini.
2.      Satu pasukan dibawah pimpinan Yazid ibn Abi Sufyan, dikirim ke Damaskus
3.      Satu pasukan dipimpin oleh Amr ibn Ash di kirim ke Palestina.
4.      Satu pasukan di bawah pimpinan Surahbil ibn Hasanah di kirim ke lembah Jurdania.
Mulanya lascar yang dikirim ke Syam semuanya berjumlah 12 ribu orang tetapi kemudian di tambah sampai menjadi 24 ribu orang.[11]
4.      Akhir Riwayat Umar Bin Khottob
Sejumlah musuh islam terdiri dari orang-orang Persia dan Yahudi mengadakan komplotan untuk membunuh Umar bin Khottob. Pembunuhan ini dilakukan oleh seorang Nasrani bernama Abu Lu’lu’ah. Abu Lu’lu’ah ini seorang bangsa Persia, dia di tawan o;eh tentara islam di Nahawam dan kemudian menjadi hamba sahaya dari Mughiroh bin Su’bah.
Abu Lu’lu’ah telah berhasil menyelusup kedalam masjid, di waktu Umar hendak memulai sembahyang subuh, dikala itu hari masih gelap. Maka di tikamlah Khalifah Umar bin Khattab dengan sebuah golok beberapa kali, diantara satu dibawah pusatnya, mka keluarlah perut beliau. Umar lalu memekik, maka datanglah kaum muslimin hendak menangkap pembunuh itu, tetapi mereka diserangnya pula degan goloknya, hingga ada yang mati, dan bebrapa orang luka-luka. Akhirnya kaum muslimin dapat menangkapnya, tatapi masih dapat ia memakai goloknya untuk membunuh dirinya sendiri.[12]
C.     USMAN BIN AFFAN
Usman bin Affan dilahirkan di Makah pada tahun ke 6 setelah kelahira Rasulullah. Ia termasuk kabilah Ummah dari suku Qurais. Ayahnya bernama Affan bin Umaiyah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf. Usman bin Affan mendaoat gelar Zun Nuraini yang artinya mempunyai dua cahaya, karena telah menikahi dua putri Rasulullah yaitu Ruqaiyyah dan Ummu Kulsum.
Usman bin Affan masuk islam atas ajakan Abu Bakar As Sidiq. Usman seorang pedagang sukses.Di daerah Hijjas beliau di kenal sebagai pedagang yang jujur, memiliki intekgritas yang tinggi, dan seorangyang soleh dan rendah hati.
1)   Proses Pengangkatan Usman Bin Affan Sebagai Kholifah.
Umar Bin Khottob meninggal dunia setelah ditikam oleh seorang yang bernama Peros (Abu Lu’lu’ah) dan bertahan selama tiga hari setelah penikaman.Berkuasa selama 10 tahun 6 bulan 4 hari. Ketika masih terbaring sakit paska penikaman Umar bin Khottob membentuk sebuah tim yang terdiri atas 6 orang sahabat termuka untuk menemukan penggantinya sebagai Kholifah. Enam  sahabat yang menjadi anggota formatur adalah Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Tholib, Thalhah Bin Ubaidillah, Zubair Bin Awwam, Abdur Rohman Bin Auf, dan Saad Bin Abi Waqos. Untuk menghindari deadlock dalam pemilihan Umar mengangkat anaknya Abdullah Bin Umar sebagai anggota formatur dengan serta hak pilih tampa berhak untuk dipilih Talhah bin Ubaidillah tidak ada di Madinah dan baru kembali di Madinah setelah pemilihan khalifah selesai dilakukan.
Dalam sebuah penjajakan pendapat yang dilakukan oleh abdur Rahman Bin auf terhadap anggota formatur yang ada, di peroleh dus calon khalifah yaitu Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Tholib.Ali Bin Abi Tholib memilih Usman Bin Affan untuk menjadi khalifah sebaliknya Usman Bin Affan memilih Ali Bin Abi Tholib menjadi khalifah.Sa’ad Bin Waqos emilih Usman, emtara Abdur Rohman Bin Auf dan Zubair Bin Awwam tidak diketahui siapa hak pilihnya direalisasikan. Dewan musyawarah akhirnya berhasil mengangkat Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga mengganti Umar Bin Khotob. 
2)   Kebijakan dan Kepemimpinan Usman Bin Affan.
a)         Perluasan wilayah islam.
Pada saat perluasan wilayah ke Khurasan Usman Bin Affan mengirim pasukan yang di pimpin oleh Saad Bin Al-Ash dan Hudzaifah bin Yaman melalui ertempuran yang sengit akirnya daerah itu dapat dikuasaimoleh tentara islam. Dalam prtluasan wilayah ke Armenia tentara islam dipimpin Salman Robi’ah Al-Bahy. Afriks Utara sebelum kedatangan islam telah dijajah oleh bangsa Romawi. Rakyatnya hidup menderita akibat tekanan dari bangsa Romawi. Untuk membebaskan rakyat Afrika Utara ( Tunisia ) Usman mengirim pasukan dipimpin oleh Abdullah Bin Saad Bin Abi Saad Bin Abi Sarah. Tentara islam berhasil membebaskan bangsa Afrika Utara dari penjajah bangsa Romawi. Dari Afrika Utra tentara islam menuju ke daerah Raid an Azerbaijan serta ke Amuriah dan Cyprus.[13] Dengan demikian pada masa pemerintahan Usman Bin Affan telah meluas kesebelah timur himgga ke Armenia dan Azerbaijan, sedangkan ke sebelah Barat wilayah islam telh sampai ke Tripoli.
b)        Kodifikasi al-qur’an.
Pekerjaan yang paling berat yang dirasakan oleh Usman Bin Affan pada masa pemerintahannya adalah oengumppulan Al-Qur’an (Kodifikasi Al-Qur’an)yang merupakan lanjutan kerja yang diawali oleh Abu Bakar As Siddiq atas inisiatif Umar Bin Khottob. Sebai mana yang telah disinggung sebelumnya bahwa pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Abu Bakar dilatarbelakangi oleh Syahidnya 70 sahabat Rasulullah yang hafal Al-Qur’an pada saat perang Zamamah.Sedangkan yang melatar belakangi pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Usman Bin Affan adalah berbedaan qiroat (baca) Al-qur’an yang menimbulkan percecokan antara murid dan gurunya.[14] Pada saat penyalinan Al-Qur’an yang ke dua kalinya panitia (Lajnah) penyusunan mushaf Al-Qur’an yang di bentuk olehUsman Bin Affan melakukan pengecekan ulang dengan meneliti kembali mushaf yang sudah disimpan di rumah Hafsah dan membanding bandingkannya denga mushaf-mushf yang lain. Selain itu tugas utama panitia adalah menyalin mushaf Al-Qur’an yang di simpan di rumah Hafsah dan menyeragamkan Qiroat atau bacaannya, yaitu dialek Quraidi.
Setelah behasil membuat salinannya, Zain Bin Tsabit mengembalikan nafkah yang di salinnya kepada Hafsah. Khalifah Usman memerintahkan kepada Ziad Bin Tsabit agar membuat sejumlah salinan mushaf dan dikirim kr Mekah, Madiah, Basroh, Kufah, dan Syri’a dan salah satunya di simpan di rumah Usman Bin Affan yang kemudian disebut dengan Mshaf Al Imam. Sedangkan mushaf lain selain mushaf yang di susun oleh panitia yang dipimpin oleh Zaid Bin Tsabit diperintahksn untuk di bakar.  Penyusunan Mushaf Usmani telah berhasil menyelamatkan dan mengeluarkan umat islam dari kemelut karena perbedaan qiraat  
c)         Otonomi daerah.
Pada zaman khalifah Abu Bakar dan Umar, wilayahnya dibedakan menjadi dua yaitunwilayah yang pemimpinnya memiliki otonomi penuh dan pemimpinanya di sebut Amir, dan wilayah yang tidak memiliki otonomi penuh yang pemimpinannya disebut Wali. Pada zaman Usman bin Affan dilakukn perubahan setatus wilayah sehingga semua wilayah memiliki otonomi penuh. Oleh karena itu seluruh pemimpin wilayah bergelar Amin.
d)     Membentuk angkatan laut.
Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, daerah islam telah sampaike Afrika, Mesir, Cyprus, dan Konstantinopel daerah-daerah ini banyak di kelilingi lautan. Atas usul Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Damaskus, Usman menyetujui pembentukan armada laut yang dilengkapi personil dan sarana yang memadahi
e)    Merahab Masjid Nabawi di madinah.
Pada zaman Usman bin Affan, masjid nabawi dibongkar, kemudian di bangun kembali dengan ukuran yang lebih luas. Bentuk dan corak bangunannya di perindah. Tiang-tiangnya terbuat dari beton dan sebagian dindingnya dihiasidengan ukiran-ukiran yang indah.[15]
3)    Akhir Riwayat Usman Bin Affan
Usman bin Affan menjabat jabatannya dalam suasana dalam gejala-gejala dan golongan. Golongan pertama adalah golongan yang tidak menginginkan dan tidak merestui Usman menjadin Khalifah. Golongan yanag ke dua golongan yang mendukung Usman. Usman adalah seorang yang kayaraya lagi pemurah dan berkehidupan makmur. Kekayaan pribadinya habis digunakan untuk keperluan dan kepentingan fisabilillah ketikan inilah beliau banyak mendapat kecaman dalam mempergunakan uang baitul mal. Dalam masa ke enam tahun pertama dari pemerintahan Usman segala sesuatu masih berjalan dengan baik. Tetapi pada permulaan pemerintahan Usman kesalahan-kesalahan itu sudah mulai ada. Keadan buruk ini tidak hendak dibiarkan demikian saja. Negara yang lemah itu tidaklah dibiarkan jatuh begitu saja. Maka bangkitlah beberapa orang sahabat termuka untuk memebri nasihat kepada khalifah Usman bin Affan untuk beristirahan atau mengundurkan diri.
Banyak kaum muslimin yang meninggalkan Usman. Usman semakin mempercayakan segala sesuatunya kepada family dan kerabat dekatnya. Dengan tangan besi mereka melakukan sewenag-wenang. Beberapa orang pemuda islam mempertarukan dirinya dengan berdiri di depan pintubrumah Usman untuk melindungib Usman dari pemberontak, tetapi pemberontak dapan menerobos masuk dengan memanjat rumah Usman bin Affan dan menyerang beliau yang sedang membaca Al-Qur’an lalu mereka membunuhnya.[16]
D.    ALI BIN ABI THOLIB
Ali Bin Abi Tholib dilahirkan di kota Makkah pada tahun 13 setelah kelahiran Rasulullah. Ali Bin Abi Tholib adalah keponakan Rasulullah. Ayahnya bernama Abi Tholib yang mempunyai keluarga yang sangat banyak.Ketika Ali masih kanak-kanak, terjadi bencana yang yang melanda masyarakat Makkah.Untuk meringankan beban penderitaan Abu Tholib, Rasulullah memohon kepada pamanya Abbas untuk memberi bantuan kepada anak-anak Abu Tholib. Maka diputuskan, Abbas membantu Ja’far Bin Abi Tholib sedangkan Rasulullah mre,bantu dan merawat Ali Bi Abi Tholib.
Dengan demikian Ali tumbuh menjadi dewasa di bawah binbingan langsung Rasulullah yang selalu menunjukkan rasa kasih sayangnya kepada Ali Bin Abi Tholib.Ketika Muhammad diangkat mejadai Rasul Ali baru berumur 13 tahun, dan dialah anak yang pertama kali masuk islam. Ali Bin Abi Tholib dan Siti Khodijah adalah orang yang pertama kali sholat bersama Rasulullah pada hari-hari berikutnya setelah masa kerosulannya.
Sejak kecil Ali sudah terkenal dengan kebaikannya dan merupakan orang yang sabar. Beliau telah merasakan pahit getirnya kehidupan bersama Rasullah. Ketika suku Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara Rasulullah dengan masyarakat Yastrib dan adanya keinginan Rasulullah untuk hijroh ke Yastrib, tokoh-tokoh kafir Quraisy telah membuat scenario besar untuk membunuh Rasulullah. Ali dengan hati tulus mematuhi perintah Rasulullah untuk tidur menggantikan Rasulullah pada malam keberangkatan hijroh ke Madinah. Begitulah seorang Ali Bin Abi Tholib telah rela memertaruhkan jiwa raganya untuk menyelamatkan Rasulullah dari ancaman pembunuh kafir Quraisy
a)    Proses pengankatan  Ali Bin Abi Tholib sebagai Kholifah.
Setelah peristiwa kematian Usman Bin Affan, terjadi kefakuman kholifah selama 3 hari. Seluurh kota Madinah lumpuh akibat kekacauan yang dibuat oleh kaum pengacau. Bahkan jenazah Usman terlantar selama 3 hari.[17]
Ali Bin Abi Tholib seorang pribadi yang agung, lemah lembut, namun memiliki kecerdasan yang tinggi.Karena kepribadian yang agung itulah banyaj kaum munafik yang tidak menyukai Ali. Mereka tidak senang kalau ali Menjadi holifah, khawatir pola kepemimpinan Ali sama ketika pemerintahan Islam dikewndalikan oleh Umar Bin Khottob. Mereka takut kesenangan dan kenikmatan yang mereka rasakan yang didapat dengan cara yang bathil pada masa Usman tidak ada lagi ketika Ali Bin Abi Tholib memimpin pemerintahan Islam.
Golongan yang anti dengan pengangkatan Ali sebagai Kholifah sangat kecil (keluarga Umaiyah), sedabgkan masyarakat islam secara umum menanti pengangkatan Ali sebagai kholifah. Ali diharapkan dapat menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat islam yang hidupnya menderita.[18]
Karena desakan dari arus bawah yang begitu kuat agar segera Ali diangkat sebagai kholifah, maka para sahabat dan umat islam membai’at ali sebagai kholifah keempat penggati Usman Bi Affan yang telah meninggal dunia.  Semula Ali menolak tetapi karena demi kepentingan islam beliau menerima pengangkatan itu.
b)   Kebijakan dan Kepemimpinan Ali Bin Abi Tholib.
1)        Mengganti para Gubenur.
Semua gubenur yang diangkat oleh Kholifah Usman Bin Affan harus diganti oleh Kholifah Ali, karena banyak masyarakat yang tidak senang. Karena menurut pengamatanya, para gubenur inilah yang menyebabkan timbulnya banyak pemberontakan terhadap pemberintahan Usman Bin Affan. Adapun beberapa gubenur yang diganti adalah:
a.         Gubenur Syiria diganti oleh Sahl Bin Hanif.
b.        Gubenur Basroh diganti oleh Usman Bin Hanif
c.         Gubenur Mesir diganti oleh Qa’is Bin Sa’ad
d.        Gubenur Kufah diganti oleh Umrah Bin Syihab.
e.         Gubenur Yaman diganti oleh Ubaidah Bin Abbas
2)        Menarik kembali tanah milik Negara.
Pada masa pemerintahan Usman Bin Affan banyak para kerabatnya yang diberikan fasilitas dalam berbagai bidang.Sehingga banyak diantara mereka yang kemudian merongrong pemerintahan Usman dan harta kekayaan mereka.Untuk itulah Ali merasa sangat perlu utuk menarik kembali semua tanah pemberian Usman kepada keluarganya, menjadi milik Negara.
3)         Perbaikan bidang ilmu Bahasa.
Pada masa pemerintahan Ali wilayah islam sudah sangat luas, tidak hanya Jazirah Arab tetapi sudah sampai Tunisia bahkan sampai ke Indus India. Masyarakat muslim yang bukan berasal dari Jazirah Arab banyak ditemukan kesulitan dalam membaca teks Al-Qur’an dan Hadits, sebagai sumber hukum islam.[19]
Ali berfikir bahwa kesulitan masyarakat muslim untuk membaca Al-Qur’an dan Hadits menjadi kendala dalam memaham ajaran islam. Sangat perlu adanya perbaikan bacaan masyarakat muslim non Arab dalam mempelajari ajaran Islam yang kebanyakan berbahasa Arab.
Secara mayoritas umat islam memilih Ali sebagai pengganti Usman. Begitu besar keinginan Ali untuk memulihkan keadaan umat islam agar segera selamat dari krisis yang melanda umat islam. Tetapi kondisi semakin memprihatikan. Orang –orang islam yang dulu bersatu padu dalam ikatan Ukhuwah Islamiyah untuk menegakkan Islam telah hilang berubah menjadi permusuhan, akibat dari hasutan orang-orang munafiq yang tidak ingin Islam berkembang. Orang-orang dulu dekat dengan Ali telah menjadi lawan politik.Seorang Jalal-Din Al-Suyuti mengatakan bahawa Thalhah, Zubair dan A’isyah telah berangkat ke Basrah untuk mengajukan tuntutan kepada Ali agar menangkap pembunuh Usmman Bin Affan.Akibat dari tuntutan itu Ali menyiapkan pasukan bereperang dengan pasukan Tholhah, Zubair, dan A’isyah. Perang ini dalam sejarah dikenal dengan perang Jamal (Unta). Tholhah, Zubair terbunuh dalam peperangan itu sedangkan A’isyah dapat diselamatkan.
Di lain pihak, pembangkangan yang dilakukan oleh Mu’awiyah Bin Abi Sofyan telaj melahirkan konflik senjata antara pasukan Ali dengan pasukan Mu’awiyah yang dipimpin oleh Amr Bin Ash.Perang ini kemudian dikenal dengan perang shiffin.Dalam perang ini disebutkan bahwa pasukan Ali telah berhasil mematahan pertahanan pasukan Mu’awiyah.Dalam situasi yang demikian pasukan Mu’awiyah yang dipimpin oleh Amr Bin Ash mengangkat mushaf Al-Quran di atas tenbok pertanda perang dihentikan denagn melakukan perdamaian.Perintiwa ini disebut dengan peristiwa tahkim.[20]
Akibat dari peristiwa Tahkim ini kubu Ali terpecah menjadi 2 yaitu golongan yang keluar dari Ali disebut golongan Khawarij dan golongan yang setia kepada Ali disebut golongan Syiah. Di luar golongan ini masihn ada golongan umat Islam yang lain yaotu golongan yang mendukung Mu’awiyah dan golongan Murji’ah. Adanya friksi-friksi ini semakin memperkeruh kondosi umat islam, sampai pada akhirnya Ali Bin Abi Tholib terbunuh oleh seorang Khowarij yang bernama Abdur Rahman Bin Muljam pada tanggal 17 Romadlon tahun 40 H.[21]
c)    Akhir Riwayat Ali bin Abi Tholib
Diwaktu beliau bersiap-siap hendah  mengirim balatentara sekali lagi untuk memerangi Mu’awiah, terjadilah suatu kelompok untuk mengakhiri masing-masing hidup dari Ali, Mu’awiyah dan ‘Amr ibn ‘Ash.
Komplotan ini terdiri dari tiga orang Khawarij, yang telah bersepakat hendak membunuh ketiga orang pemimpin itu pada malam yang sama. Seorang diantaranya bernama Abdurrahman ibn Muljam. Orang ini berangkat ke Kufah untuk membunuh Ali yang seorang lagi bernama Barak ibn Abdillah at Tamimi. Orang ini pergi ke Syam untuk membunuh Mu’awiah, sedang yang ketiga yaitu ‘amr ibn Bark At Tamimi berangkat ke Mesir untuk membunuh ‘Amr ibn ‘Ash.
Tetapi di antara ketiga orang itu hanyalah Ibn Muljam yang dapat membunuh Ali. Ibn Muljam menusuk Ali dengan pedang, waktu beliau sedang memanggil orang untuk bersembahyang. Orang-orang yang bersembahyang di masjid itu dapat menangkap Ibn Muljam, yang kemudian sesudah Ali berpulang kerahmatullah dia dibunuh.[22]




















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Abu Bakar As-Shiddiq
Panggilan Abu Bakar As Shiddiq sebenarnya adalah sebagai gelar saja. Abu artinya bapak, sedangkan Bakar artinya dengan segera. Beliau diberi nama demikian karena beliau masuk islam dengan segera, mendahului yang lain. Kemudia As Shiddiq artinya yang amat membenarkan. Karena beliau sangat membenarkan berbagai pengalaman dan ajaran yang dibawa oleh Rasululloh terutama pada peristiwa Isro’ Mi’roj. Kebijakan Abu Bakar As-Shiddiq: Memerangi tiga golongan yang mengacaukan islam, Pengungumpulan mushaf al-qur’an, Perluasan wilayah
2.   Umar Bin Khottob
Umar Bin Khottob masuk islam dalam usia 27 tahun. Pada awalnya Rasulluloh berdo’a kepada Alloh agar agama islam diberi kekuatan dengan masuknya salah satu seorang dari dua Umar yaitu Umar Bin Khottob dan Amr Bin Hasyim (Abu Jahal). Akhirnya Umar Bin Khottob masuk islam. Kebijakan Umar Bin Khattab: Perluasan wilayah, Meletakkan prinsip peradilan, Pembagian kekuasaan, Membentuk beberapa dewan, Menetapkan tahub hijriah, Membangun beberapa masjid
3.   Usman Bin Affan
Usman bin Affan masuk islam atas ajakan Abu Bakar As Sidiq. Usman seorang pedagang sukses.Di daerah Hijjas beliau di kenal sebagai pedagang yang jujur, memiliki intekgritas yang tinggi, dan seorangyang soleh dan rendah hati. Kebijakan Usaman Bin Affan: Perluasan wilayah islam, Kodifikasi al-qur’an, Otonomi daerah, Membentuk angkatan laut, Merehab masjid Nabawi di Madinah.
4.      Ali Bin Abi Tholib
Sejak kecil Ali sudah terkenal dengan kebaikannya dan merupakan orang yang sabar. Beliau telah merasakan pahit getirnya kehidupan bersama Rasullah. Ketika suku Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara Rasulullah dengan masyarakat Yastrib dan adanya keinginan Rasulullah untuk hijroh ke Yastrib, tokoh-tokoh kafir Quraisy telah membuat scenario besar untuk membunuh Rasulullah. Ali dengan hati tulus mematuhi perintah Rasulullah untuk tidur menggantikan Rasulullah pada malam keberangkatan hijroh ke Madinah. Begitulah seorang Ali Bin Abi Tholib telah rela memertaruhkan jiwa raganya untuk menyelamatkan Rasulullah dari ancaman pembunuh kafir Quraisy. Kebijakan Ali Bin Abi Tholib: menggati para Gubenur, menarik kembali tanah miilik Negara, perbaikan bidang ilmu bidang bahasa
























DAFTAR PUSTAKA
Jamil, Ahmad. Sejarah kebudayaan islam MAN. Gresik: Putra Kembar Jaya. 2008
Syalabi. Sejarah dan kebudayaan isalm 1. Jakarta: Pustaka Al Husna Baru. 2003



Teman yang bertanya:
1.      Abu Zaeni                         (3217103001)
2.      Amelia Nursanti                (3217103007)
3.      Faridatul Khasanah           (3217103025)





[1] Ahmad Jamil, sejarah kebudayaan islam MAN, Gresik: Putra kembar Jaya. 2008, hal:22
[2] Ibid,…,hal:23
[3] Ibid,…hal:23-24
[4] Ibid,…,hal:24
[5] Syalbi. Sejarah dan kebudayaan islam 1, Jakarta: Pustaka Al Husna Baru. 2003, hal:201-202
[6] Ahmad Jamil, sejarah kebudayaan islam MAN, Gresik: Putra kembar Jaya. 2008, hal:24
[7] Ibid,…,hal:25
[8] Ibid,…hal:25-26
[9] Ibid,…,hal:26
[10] Ahmad Jamil, sejarah kebudayaan islam MAN, Gresik: Putra kembar Jaya. 2008, hal:26
[11] Syalbi. Sejarah dan kebudayaan islam 1, Jakarta: Pustaka Al Husna Baru. 2003, hal:204-212
[12] Ibid,…,hal: 226-227
[13] Ahmad Jamil, sejarah kebudayaan islam MAN, Gresik: Putra kembar Jaya. 2008, hal:27
[14] Ahmad Jamil, sejarah kebudayaan islam MAN, Gresik: Putra kembar Jaya. 2008, hal:27
[15] Ibid,…,hal:27-28
[16] Syalbi. Sejarah dan kebudayaan islam 1, Jakarta: Pustaka Al Husna Baru. 2003, hal:235-241
[17] Ahmad Jamil, sejarah kebudayaan islam MAN, Gresik: Putra kembar Jaya. 2008, hal:28
[18]Ibid,…, hal:28
[19] Ibid,…hal:29
[20]Ibid,…, hal:29-30
[21] Ahmad Jamil, sejarah kebudayaan islam MAN, Gresik: Putra kembar Jaya. 2008, hal: 30
[22] Syalbi. Sejarah dan kebudayaan islam 1, Jakarta: Pustaka Al Husna Baru. 2003, hal:264

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar